Pertemuan
ke-10, 8 November 2016, ada dua kelompok yang akan mempresentasikan materinya.
Yang pertama adalah kelompok 9 yang akan mempresentasikan tentang perkembangan
matematika di Babilonia, dan kelompok 10 yang akan mempresentasikan tentang
perkembangan matematika di Mesir.
Kelompok
9, Arif (saya sendiri) dan Yolanda, mendapat giliran pertama presentasi. Kami
bisa dikatakan cukup siap tampil karena 30 menit sebelumnya kami telah
mempersiapkan materi dan sedikit latihan presentasi. Ketika tiba giliran kami,
mula-mula kami bagikan modul materi keoada para audien, kemudian kami
menyampaikan materi tentang apa yang telah kami pelajari sebelumnya. Memang
kadang-kadang kami merasa gugup dan gerogi karena ada beberapa materi yang
tidak sengaja kami lupa. Mungkin efek gerogi membuat kami blank. Hehe…
Tapi kami tetap berusaha menampilkan yang terbaik saat itu agar latihan dan
persiapan kami sebelumnya tidak sia-sia. Hasilnya, audien merasa cukup paham
tentang apa yang telah kami presentasikan. Setelah kami menyampaikan materi,
kami memberikan kesempatan bertanya kepada para audien. Tiga pertanyaan kami
tampung kemudian kami diskusikan jawabannya. Setelah kami temukan jawaban yang
kami rasa tepat, kami coba menjawab satu per satu pertanyaan mulai dari yang
termudah. Alhamdulillah tidak lama audien menunggu, ketiga pertanyaan dapat
kami jawab dengan baik. Setelah itu, kami menutup presentasi dan akan
dilanjutkan kelompok 10 yang telah menunggu untuk tampil.
Kelompok
10, Kartika dan Wahyu, mulai menginjak panggung depan kelas untuk
mempresentasikan materinya. Mereka memulai dengan membagikan modul materi
kepada para audien kemudian mulai menjelaskan materi tentang sejarah
perkembangan matematika di Mesir kemudian pola bilangan yang digunakan saat
itu. Presentasi yang mereka tampilkan saya rasa kurang persiapan, banyak materi
dari mereka yang ragu untuk diutarakan bahkan ada blank yang lama di
tengah presentasi. Alhasil, saya sedikit memahami materi yang disampaikan.
Bukan bermaksud menjelekkan kelompok lain dan memuji kelompok sendiri, tapi itu
penilaian saya mengenai kelompok 10. Setelah beberapa menit mereka menyampaikan
materi, mereka beralih ke sesi tanya jawab. Mereka juga memberi kesempatan
kepada tiga penanya yang beruntung untuk bertanya. Setelah mendapat pertanyaan
yang berbeda-beda dari ketiga penanya, mereka mulai mendiskusikan jawabannya.
Setelah mendapatkan jawaban, mereka mencoba melontarkan jawaban atas beberapa
pertanyaan tersebut dengan pelan-pelan dan berhati-hati, sedikit ragu-ragu,
tapi para audien yang bertanya merasa puas dengan jawaban mereka. Ketiga
pertanyaan telah rampung mereka jawab, selanjutnya mereka mengakhiri presentasi
dengan baik.
Sedikit
ulasan mengenai materi kelompok 9 dan kelompok 10. Babilonia dan
matematikanya merupakan peradaban tertua di bumi yang diperkirakan ada pada
abad 23 sebelum masehi. Bukti-bukti sejarah yang mendukung adalah ditemukannya
tablet-tablet yang terbuat dari tanah liat dengan ukiran tulisan paku. Setelah
diteliti, pola bilangan Babilonia memiliki keunikan tersendiri, seperti
menggunakan basis 60, hanya ada dua simbol yang mewakili angka 10 (puluhan) dan
1 (satuan) untuk bisa menyatakan bilangan lain, banyak bilangannya ada 59
bilangan dengan bilangan terbesar 59 serta tidak mengenal angka nol (0), dan
masih banyak lagi.
Dalam matematika Mesir, papyrus digunakan sebagai sumber utama atau panduan mempelajari matematika. Selain itu, bangsa Mesir menggunakan hieroglif sebagai alat hitung kala itu. bangsa Mesir menggunakan sistem bilangan tak beda dari saat ini yaitu menggunakan basis 10, sudah mengenal operasi hitung seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Dalam matematika Mesir, papyrus digunakan sebagai sumber utama atau panduan mempelajari matematika. Selain itu, bangsa Mesir menggunakan hieroglif sebagai alat hitung kala itu. bangsa Mesir menggunakan sistem bilangan tak beda dari saat ini yaitu menggunakan basis 10, sudah mengenal operasi hitung seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar