Total Tayangan Halaman

Senin, 09 Januari 2017

5. Perkembangan Matematika di Babilonia Kuno dan Mesir

Pertemuan ke-10, 8 November 2016, ada dua kelompok yang akan mempresentasikan materinya. Yang pertama adalah kelompok 9 yang akan mempresentasikan tentang perkembangan matematika di Babilonia, dan kelompok 10 yang akan mempresentasikan tentang perkembangan matematika di Mesir.
Kelompok 9, Arif (saya sendiri) dan Yolanda, mendapat giliran pertama presentasi. Kami bisa dikatakan cukup siap tampil karena 30 menit sebelumnya kami telah mempersiapkan materi dan sedikit latihan presentasi. Ketika tiba giliran kami, mula-mula kami bagikan modul materi keoada para audien, kemudian kami menyampaikan materi tentang apa yang telah kami pelajari sebelumnya. Memang kadang-kadang kami merasa gugup dan gerogi karena ada beberapa materi yang tidak sengaja kami lupa. Mungkin efek gerogi membuat kami blank. Hehe… Tapi kami tetap berusaha menampilkan yang terbaik saat itu agar latihan dan persiapan kami sebelumnya tidak sia-sia. Hasilnya, audien merasa cukup paham tentang apa yang telah kami presentasikan. Setelah kami menyampaikan materi, kami memberikan kesempatan bertanya kepada para audien. Tiga pertanyaan kami tampung kemudian kami diskusikan jawabannya. Setelah kami temukan jawaban yang kami rasa tepat, kami coba menjawab satu per satu pertanyaan mulai dari yang termudah. Alhamdulillah tidak lama audien menunggu, ketiga pertanyaan dapat kami jawab dengan baik. Setelah itu, kami menutup presentasi dan akan dilanjutkan kelompok 10 yang telah menunggu untuk tampil.
Kelompok 10, Kartika dan Wahyu, mulai menginjak panggung depan kelas untuk mempresentasikan materinya. Mereka memulai dengan membagikan modul materi kepada para audien kemudian mulai menjelaskan materi tentang sejarah perkembangan matematika di Mesir kemudian pola bilangan yang digunakan saat itu. Presentasi yang mereka tampilkan saya rasa kurang persiapan, banyak materi dari mereka yang ragu untuk diutarakan bahkan ada blank yang lama di tengah presentasi. Alhasil, saya sedikit memahami materi yang disampaikan. Bukan bermaksud menjelekkan kelompok lain dan memuji kelompok sendiri, tapi itu penilaian saya mengenai kelompok 10. Setelah beberapa menit mereka menyampaikan materi, mereka beralih ke sesi tanya jawab. Mereka juga memberi kesempatan kepada tiga penanya yang beruntung untuk bertanya. Setelah mendapat pertanyaan yang berbeda-beda dari ketiga penanya, mereka mulai mendiskusikan jawabannya. Setelah mendapatkan jawaban, mereka mencoba melontarkan jawaban atas beberapa pertanyaan tersebut dengan pelan-pelan dan berhati-hati, sedikit ragu-ragu, tapi para audien yang bertanya merasa puas dengan jawaban mereka. Ketiga pertanyaan telah rampung mereka jawab, selanjutnya mereka mengakhiri presentasi dengan baik.
Sedikit ulasan mengenai materi kelompok 9 dan kelompok 10. Babilonia dan matematikanya merupakan peradaban tertua di bumi yang diperkirakan ada pada abad 23 sebelum masehi. Bukti-bukti sejarah yang mendukung adalah ditemukannya tablet-tablet yang terbuat dari tanah liat dengan ukiran tulisan paku. Setelah diteliti, pola bilangan Babilonia memiliki keunikan tersendiri, seperti menggunakan basis 60, hanya ada dua simbol yang mewakili angka 10 (puluhan) dan 1 (satuan) untuk bisa menyatakan bilangan lain, banyak bilangannya ada 59 bilangan dengan bilangan terbesar 59 serta tidak mengenal angka nol (0), dan masih banyak lagi.
 Dalam matematika Mesir, papyrus digunakan sebagai sumber utama atau panduan mempelajari matematika. Selain itu, bangsa Mesir menggunakan hieroglif sebagai alat hitung kala itu. bangsa Mesir menggunakan sistem bilangan tak beda dari saat ini yaitu menggunakan basis 10, sudah mengenal operasi hitung seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

4. Review Filosofi Matematika Sekolah (Absolut Progresif, Platonisme, Konvensionalisme, dan Empirisme)

Hari ini adalah pertemuan yang ke-7 bagi kelas B PMT 2016. Bertepatan dengan 18 Oktober 2016 atau seminggu menjelang UTS ganjil. Hari ini dua kelompok akan bertugas mempresentasikan materi tentang review filosofi matematika sekolah yang meliputi absolut progresif, platonisme, konvensionalisme, dan empirisme. Kelompok 7 akan menjelaskan tentang absolut progresif dan platonisme. Sedangkan kelompok 8 akan menjelaskan tentang konvensionalisme dan empirisme.
Kelompok 7 berkesempatan untuk tampil lebih dahulu. Kelompok yang terdiri dari Rosidah dan Inayah ini akan menjelaskan tentang absolut progresif dan platonisme. Mereka pun bersiap ketika selesai berdoa bersama di kelas. Mulai menyiapkan segala properti yang akan digunakan nantinya. Presentasi kelompok 7 pun dimulai ketika salah satu anggota kelompok mengucap salam. Suasana kelas menjadi sunyi dan serius. Presentasi berlangsung cukup lama. Kelompok ini cukup baik dalam presentasi, bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit, jadi langsung to the point ke materi denegan dilengkapi contoh praktik sebagai pendukung. Selain itu, di tengah presentasi, mereka turut menghadirkan salah satu audien untuk maju dan mengambil salah satu kertas yang berisikan nama-nama lain aliran absolut progresif. Hal ini membuat presentasi kelompok 7 menarik selain didukung tampilan PPT yang kreatif. Setelah mereka selesai dengan presentasi mereka, sesi tanya jawab pun dibuka bagi dua penanya yang beruntung. Dua orang penanya menanyakan beberapa pertanyaan yang berbeda. Mereka pun mencoba mendiskusikan jawaban yang tepat. Setelah didapat jawaban yang pas, mereka menjawab setiap pertanyaan. Tak butuh waktu lama, kedua pertanyaan telah terjawab, mereka menutup presentasi mereka dengan penutup dan salam kemudian kembali ke bangku audien untuk mendengarkan presentasi kelompok selanjutnya.
Kelompok 8 mulai maju di depan kelas dengan percaya diri. Mereka terdiri dari Karina dan Leli ini akan menjelaskan tentang konvensionalisme dan empirisme. Tanpa banyak waktu yang terbuang, mereka segera membuka presentasi dengan salam. Pemateri secara bergantian menjelaskan dengan tenang dan baik. Bahasa yang digunakan cukup mudah dipahami audien, meskipun ada beberapa istilah asing yang membingungkan artinya. Sayang dalam menyampaikan materi, suara pemateri sedikit kurang keras, sehingga audien yang duduk di bangku paling belakang kurang bisa mendengar dengan jelas. Setelah selesai dengan presentasi, seperti biasa, mereka membuka sesi tanya jawab bagi dua penanya yang beruntung. Tak perlu waktu lama, kedua penanya langsung menanyakan beberapa pertanyaan tentang materi yang disampaikan. Mereka pun berdiskusi sejenak. Kemudian setelah mendapat jawaban yang tepat, mereka mencoba menjawab setiap pertanyaan dengan pelan-pelan dan pasti. Kedua pertanyaan selesai terjawab, mereka pun menutup presentasi dengan penutup dan salam kemudian kembali ke bangku audien untuk mendengarkan review materi oleh Pak Kusaeri.
Sedikit ulasan materi kelompok 7 dan kelompok 8 tentang absolut progresif, platonisme, konvensionalisme, dan empirisme. Secara garis besar, absolut progresif berarti terbuka menerima pendapat atau teori lain selama tidak bertentangan atau melenceng jauh dari teori dasar awal. Platonisme berarti pandangan matematika bisa digambarkan keberadaannya. Jadi bisa melalui contoh konkrit yang mendukung pemahaman tentang matematika agar tidak terlalu abstrak. Konvensionalisme berarti penyampaian materi secara satu arah, yaitu guru yang aktif memberikan informasi tetapi murid hanya mendengarkan. Sedangkan empirisme berarti materi didapat hanya dari pengalaman pribadi.

3. Elemen Ideologi Pendidikan Matematika

Pertemuan ke-6 kali ini sama dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kali ini bertepatan dengan tanggal 11 Oktober 2016. Dua kelompok mulai mempersiapkan diri untuk presentasi di depan kelas mengenai elemen ideology pendidikan matematika. Kelompok 5 akan menjelaskan tentang tujuan elemen ideologi pendidika matematika, sedangkan kelompok 6 akan menjelaskan tentang elemen ideologi pendidikan matematika.
Kelokpok 5 akan mempresentasikan materi mereka terlebih dahulu. Kelompok yang terdiri dari tiga orang ini, Faizah, Dian, dan Adel, akan menjelaskan mengenai tujuan elemen ideologi pendidikan matematika. Saat memulai presentasi, suasana kelas tidak seperti biasanya. Suasana sedikit tegang karena tuntutan untuk lebih baik dari sebelumnya. Memang selama dua pertemuan sebelumnya, kebanyakan mereka presentasi dengan melihat teks. Sehingga terkesan kurang baik. Kelompok 5 berusaha meminimalisir penampilan mereka agar tidak membaca teks, tapi karena sulitnya pemahaman materi filsafat, mereka tetap membuka teks saat presentasi. Akhirnya, audien juga pemateri tidak memahami apa yang sebenarnya dibhas pada saat itu. sampai-sampai, Pak Kusaeri saat itu memberikan sindiran keras atas penampilan mereka. Membuat suasana saat itu semakin tegang. Ketika selesai menyampaikan materi, mereka melanjutkan dengan sesi tanya jawab untuk 3 penanya pertama. Katiga penanya mulai memberikan pertanyaan kepada kelompok 5. Setelah itu, mereka mencoba mendiskusikan jawaban seperti kelompok-kelompok lainnya. Setelah mendapat jawaban yang tepat, mereka mencoba menjawab tiap pertanyaan dengan sedikit tegang. Meskipun demikian, mereka mampu menjawab ketiga pertanyaan dengan baik. Mereka menutup presentasi untuk dilanjutkan materi selanjutnya oleh kelompok 5.
Setelah presentasi kelompok 5, kini giliran kelompok 6 yang akan menjelaskan mengenai elemen ideologi pendidikan matematika. Mereka terdiri dari Awin, Enggar, dan Putri. Kali ini, kelompok ini terlihat lebih baik dari kelompok lainnya. Mereka tampil baik, mulai dari bahasa yang bisa dipahami oleh audien, pemateri yang mulai bisa memahami materinya, dan tampilan PPT yang menarik. Tapi sayang, suaranya kurang bisa didengar sampai bangku paling belakang. Tidak butuh waktu lama untuk mereka presentasi. Setelah presentasi selesai, mereka membuka sesi tanya jawab dengan 3 penanya pertama seperti kelompok-kelompok lain. Ketiga penanya yang beruntung masing-masing memberikan sebuah pertanyaan yang beraneka macam seputar materi yang disampaikan. Kemudian mereka mendiskusikannya dan menjawab setiap pertanyaan tadi dengan cukup cepat, sehingga kelompok 6 lebih cepat waktunya dari kelompok 5. Mereka menutup presentasi dengan penutup dan salam kemudian kembali ke bangku audien.
Sedikit review mengenai materi yang disampaikan, ideologi pendidikan matematika adalah cara menyampaikan keabstrakan matematika pada siswa. Tujuan dari ideologi pendidikan matematika adalah untuk dunia kerja, pengembangan pengetahuan matematika di sekolah, dan lainnya. Ideologi matematika dibagi menjadi dua yaitu ideologi primer (guru/dosen, murid/mahasiswa, dan tempat/kelas) dan ideologi skunder (bangku, kursi, LCD, dll yang mendukung ideologi primer).